Danang Margono

Gurusiana teman terhebat yang pernah aku kenal, ayo .. menulis dengan hati untuk kebaikan sesama...

Selengkapnya
Navigasi Web

SANG PENUNGGU WAKTU (Hari ke-58 tantangan menulis)

SANG PENUNGGU WAKTU

Hari ke-58 tantangan menulis

By Danang Margono, M.Pd.

Waktu di HP menunjukkan pukul 11.13 ketika aku masih duduk di kursi panjang ini. Sambil terus menggoyang kursor HP ini sampai terdengar sayup-sayup adzan dzuhur berkumandang. Sudah hampir 1 jam pintu ruang sebuah poliklinik itu belum terbuka. Padahal mungkin kalau dihitung ada puluhan orang yang menunggu berjejer tak bergerak sambil melototi pintu itu dan berkata kapan ya pintu itu dibuka.

“Ah, sudah dzuhur aku akan sholat sebentar, insya allah cukup waktunya,”gumamku. Sedikit berjalan dengan cepat aku susuri lorong rumah sakit ini sendiri sambil menahan rasa sakit di lenganku. Perlahan-lahan suara adzan itu semakin keras tandanya aku sudah dekat di masjid rumah sakit. Alhamdulillah, kulihat banyak kerumunan orang antri di tempat wudlu. Aku pun bergegas mengambil posisi antrian untuk mengambil air wudlu.

Bak kemarau yang kejatuhan butiran air hujan, tangan dan mukaku terasa segar tersiram air wudlu ini. Entah kenapa air mata ini jatuh bersama air wudlu ketika kuusap wajahku. Terasa nikmat sekali ketika aku sangat kesusahan mengusap lengan kiriku yang sakit ini. Terima kasih, Ya Allah yang telah menyadarkanku atas segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku selama ini. Terima kasih, atas nikmat sakit ini sehingga aku bertambah rasa syukur atas limpahan sehat selama ini.

Setelah kedua kaki ini tersiram terdengar suara iqomat yang menandakan sholat segera dimulai. Aku bergegas mencari posisi berdiri di belakang pintu karena ruang dalam masjid sudah sesak. Maklum ukuran masjid juga hanya menampung puluhan jamaah.

Terdengar kalimah Allahu akbar, takbiraotul ihkram oleh sang imam tanda sholat dimulai. Tak lama aku juga takbir mengikuti sang imam sambil mendengarkan surat Fatehah yang begitu tartil dan lafadz sempurna sang Imam. Mata ini mulai berkaca-kaca meskipun aku berusaha sekuat hati untuk membendung agar air mata ini tak jatuh. Dan Ahamdulillah sampai salam air ini bisa aku tahan agar tak keluar.

Entah kenapa ketika salam kuucapkan seperti air hujan yang jatuh ke bumi. Air mata ini sudah tak terbendung deras mengalir. Mengalir sambil menahan rasa sakit di lenganku. Ya lenganku tak bisa digerakkan maksimal mungkin hanya 70 % gerakannya. Seakan menjadi saksi air mata ini atas nikmat bisa berdiri dengan tegak ketika sholat. Dua minggu lebih aktivitas sholat ini kulakukan sambil duduk karena posisi lutut yang tidak bisa di lipat.

Ya, lenganku yang fraktur dan lututku yang faktur ini terjadi ketika aku berangkat ke sekolah. Jatuh dari motor karena menghindari seorang remaja putri yang tahu-tahu ada di depanku menyeberang dari suatu gang tanpa mengengok kanan kiri. Aku hentak rem motor dengan cepat dan keras hingga badanku jatuh ke aspal dengan keras. Sementara remaja putri tidak apa-apa karena motorku tidak menyentuh motornya. Ah, inilah awal yang membuat lengan kiriku fraktur.

Selesai sholat, aku bergegas menuju kursi panjang di mana kami menunggu kehadiran dokter spesialis orthopedi. 60 menit sudah berlalu bellum juga ada yang membuka pintu ruang praktik tersebut. Kulewati waktu ini dengan merenung, berdiam diri mengapa kejadian ini menimpa aku. Sesekali juga ngobrol dengan para pejuang waktu yang udah lebih lama rela menunggu dan antri. Kulihat ada yang kakinya patah, ada yang tangan kirinya dibalut perban dan berbagai macam kepiluan warna di sekelilingku.

60 menit kemudian berlalu baru kemudian baru kudengar derit pintu itu dibuka. Mungkin mereka tidak tahun bahwa banyak pasien yang menunggu sejak jam 09.00 sampai sekarang pukul 14.00. Sangat sabar untuk menghabiskan waktu, sangat sabar untuk satu kata yaitu menunggu. 5 orang kemudian dipanggil untuk menghadap sang dokter. Dari percakapan pasien dan dokter bisa dimengerti kalau mereka sudah saling kenal karena udah dalam fase control. Sementara yang lain sudah kenal situasi aku malah sebaliknya terasing dan agak takut.

Giliranku tiba, setelah bercerita tentang keadaanku aku disuruh menuju ruang radiologi untuk untuk di rekam atau dirontgen. Setelah melakukan rontgen kemudian aku kembali menuju ruang periksa. Hasil rekam radiologipun dibaca dokter dan menjelaskan bahwa aku mengalami patah tulang bagian clavicula. Rasanya pusing bercampur cemas dan perasaan-perasaaan lainnya.

Bagaimana selanjutnya…? Simak di tantangan edisi 59 .. terima kasih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search